17. Indonesian.
Stories are light. Light is precious in a world so dark. Begin at the beginning. Tell a story. Make some light.

Sunday, 4 August 2013

Catatan Penutup; Secarik, Entah yang Lebih Tepatnya Ditujukan Kepada Siapa

Sejujurnya saya selalu tidak bisa tidur ketika mendekati hari kelahiran saya. Saya takut berulang tahun, saya selalu takut, dan sampai ulang tahun ke tujuh belas, saya masih saja takut. Ketakutan saya tentang hari ulang tahun adalah murni manifestasi dari ketakutan saya tentang masa depan. Saya takut saya tidak bisa lebih baik daripada setahun kemarin, sebulan kemarin, seminggu kemarin, sehari kemarin, sejam tadi, semenit tadi, ataupun sedetik tadi. Saya takut, seiring waktu yang terus berjalan mengiringi saya; tetapi tak pernah menunggu meski saya kelelahan sekalipun, saya tidak melakukan sesuatu yang berguna, bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain. Saya takut, kalau saya hidup tapi tidak sebenar-benarnya hidup. Saya takut. Iya, saya takut.

Namun dibalik itu semua, saya bahagia. Saya bahagia, karena Tuhan masih mengijinkan saya membuka mata, bernapas lega, dan menggerakkan panca indera di hari yang sama. Saya bahagia, karena semua orang di sekitar saya mengingat saya, mengirim ucapan dan doa yang pada akhirnya (semoga) kembali pada diri mereka. Saya bahagia, karena Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk hidup, untuk memperbaiki kesalahan saya di waktu lampau, untuk berani menghadapi rasa ketakutan saya, bukan menghindari dan menjadi pengecut yang hanya bisa bersembunyi. Saya bahagia, karena Tuhan masih memberi saya kelimpahan yang tidak akan pernah ada habisnya untuk disyukuri.


Saya sadar, saya bukan hamba dan penyembah yang baik. Saya tidak jarang merasa hidup saya yang tersulit, dan tidak bersyukur atas yang telah dilimpahkan. Sejujurnya.. saya tidak tau mengapa saya kerapkali tidak bersyukur, saya punya semuanya Tuhan. Terima kasih atas hidup yang indah ini, Tuhan. Terima kasih.
Semakin saya dewasa dan bertambah umur, saya semakin mengerti betapa berartinya keluarga saya. Bahwa benar adanya, keluarga adalah tempat kembali saat seharian lelah berjuang dan mengejar harapan di luar, meski begitu keluarga bukanlah pelarian. Serta, terbuka nya mata saya bahwa teman tidak perlu banyak, tapi berkualitas. Iya kan Tuhan? Saya masih punya mereka yang tertawa dan menangis bersama saya, dan menepuk pundak saya. Terimakasih ya. Salah satu yang paling saya syukuri juga adalah terima kasih telah menolak saya di tempat yang pernah saya inginkan, saya akan segera memahami adanya kata-kata everything happens for a reason, meski saya masih dalam perjalanan untuk benar-benar mengerti. Alasan saya tidak berkuliah ditempat yang saya inginkan dulu, adalah mungkin karena Tuhan tahu saya akan menemukan kecintaan yang teramat sangat, saya akan meraih kesempatan untuk mewujudkan impian semasa kecil saya dan saya akan belajar banyak sebagai dedikasi saya sebagai manusia seutuhnya.


Tuhan, terimakasih telah melukis hidup saya dengan sangat indah. Saya sadar, hidup saya bukan lah hidup yang sempurna. Begitu pula saya sebagai pribadi. Tapi Tuhan, saya ingin selalu bersyukur. Saya ingin terus berjalan dengan kaki dan pundak yang ringan. Saya ingin merasa dengan hati yang bersih, melihat, terlibat dan berbagi dengan dunia. Tetapi untuk memulai itu semua, pada awalnya, mudahkanlah saya dalam proses melepas dan memaafkan yang telah berlalu. Selain itu, terima kasih telah memberi saya kemampuan untuk berimajinasi tinggi, meski yang katanya itu sangat konyol untuk seorang-tujuh-belas-tahun, tapi saya tahu, Kau berikan itu agar saya tidak lelah memikirkan kontemplasi-kontemplasi tanpa ujung itukan, Tuhan?


Tuhan, tepat hari ini saya berulang tahun, yang ke-tujuh belas. Rasa-rasanya saya malu jika hendak banyak meminta, karena jika dikalkulasikan, permintaan-permintaan saya ini tidak akan pernah ada selesainya, tetapi engkau selalu memberi....lebih...dari pada yang saya minta.
Tuhan, katanya Tujuh Belas Tahun adalah masa-masa indahnya menikmati masa muda. Saya mau menikmati masa muda saya, Tuhan. Tapi bukan masa muda yang hanya bersenang-senang untuk diri sendiri yang saya harapkan, saya mau bersenang-senang bersama-sama dengan orang lain, Tuhan. Saya ingin berbagi kebahagiaan dan nikmat yang kau berikan tanpa henti ini kepada mereka. Tetapi pada awalnya, mudahkanlah saya untuk mengerti esensi bahagia, dan pandai menempatkan kebahagiaan pada tempatnya...






Ini, tulisan terakhir ku setelah tujuh belas tahun, yang kemudian mengakhiri masa remaja, dan memasuki fase yang harusnya lebih dewasa. Terima kasih, yang tidak terhingga, kepada siapapun, yang pernah membaca sedikit catatan dari perjalanan saya selama ini. Terima kasih (: