Suatu hari nanti, di senja hari, saya dan kamu akan duduk di kursi, di teras belakang rumah kita. Kamu akan bermain game yang kamu instalasikan di tablet, sedangkan saya akan duduk membaca buku.
Kemudian setelah akhirnya kamu mulai jenuh dengan tablet, kamu akan meminta saya menyeduhkanmu teh hangat, dan setelahnya kita akan berbincang seru, bercerita tentang kegiatan sehari tadi, bertukar canda seperti biasanya, dan tertawa.
Dan kemudian kita akan sama-sama tersenyum haru ketika membuka album foto dan menemukan senyum anak-anak kita. Memandangi setiap pertumbuhan mereka yang beruntungnya sempat kita bekukan untuk bisa dikenang. Sampai akhirnya saya tidak bisa menahan tangis rindu akan mereka, dan kamu akan menghapus air mata dan menenangkan saya.
Kita begitu tua ketika itu. Bukan lagi dua orang belia yang gemar duduk bersama, saling menemani meski hanya mengerjakan tugas sekolah masing-masing, ataupun sekedar berbagi kontemplasi, ditemani secangkir kopi panas di kedai kopi yang tak pernah membosankan.
Kamu pembosan. Tapi anehnya, kamu tidak pernah bosan dengan saya, dan sebaliknya saya pun begitu. Kamu mencari saya, karena tanpa saya, kamu merasa tidak utuh, dan sebaliknya saya pun begitu.
Indah, ideal, meski dirasa naif.
Tapi saya percaya itu ada.
Kamu dan saya, yang menjadi kita.
Dua, yang menjadi satu.