Bahwa mungkin, yang seharusnya dilakukan bukan hanya menyodorkan tangan dan meminta maaf, melainkan memaafkan, menghilangkan dendam, dan memberikan senyuman.
Bahwa mungkin, yang seharusnya dipermasalahkan bukanlah kekurangan orang lain, melainkan berkaca dan melihat kekurangan diri sendiri.
Bahwa mungkin, yang seharusnya disadari, adalah bahwa perlakuan orang lain terhadap kita merupakan balasan dari perlakuan kita terhadap orang lain.
Bahwa mungkin, seharusnya mulai berhenti merengek meminta kemudahan kepada Tuhan, kemudian mulai meminta kekuatan, karena seharusnya tidak sebatas tau, tetapi juga yakin bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan pada hambanya melampaui batas kemampuan.
Bahwa mungkin, seharusnya mulai untuk memilih, menentukan prioritas, dan menahan ego dan keinginan yang kekanak-kanakan. Berlaku dengan ketulusan, keikhlasan, dengan yang melakukan tanpa pengharapan meski hanya sekedar pujian.
Bahwa mungkin, tidak seharusnya terus menerus menyesal, atas apa yang hilang. Kemudian memulai membuka, dan menyambut yang datang.
Bahwa mungkin, harus segera belajar menerima, dan menjalani sepenuh hati. Meski terkadang berbelok jauh dari ambisi dan obsesi.
Bahwa mungkin, bukan sekedar menyayangi, namun harus juga menghargai.
Dan dilatar belakangi oleh kemungkinan-kemungkinan yang tersadari beberapa waktu belakangan, semoga ini bukan berhenti pada pemikiran, bukan pula sekedar menjadi barisan kata, melainkan pengingat, bahwa waktu terus berjalan tanpa menunggu, dan seiring detik bergulir setiap manusia bertambah tua.
Bukan hanya berlaku untuk kamu; saya juga.