kubawa sampai berjarak 388 km jauhnya,
tapi masih, sebuah pertanyaan tak terjawabkan yang terngiang-ngiang di kepala.
Kita ada,
seperti rel kereta yang terbentang panjangnya,
sering berada bersama,
tapi tak akan pernah menjadi satu yang sama.
Aku menemukan,
meski aku tak yakin aku telah kehilangan.
Aku mencari-cari,
tanpa aku tahu apa yang sedang bersembunyi.
Aku menyadari,
sebuah kesalahan kecil yang kubiarkan menjadi-jadi.
Dan aku, pada akhirnya harus merelakan,
karena hakikatnya, tak ada yang bisa kupegang tanpa batasan.
Di sini, di sebuah peron tunggu yang sempit,
kutinggalkan secarik catatan kecil,
teruntuk gerimis yang setia menemani kala pergantian senja hari,
menanti kereta ekonomi yang akan membawaku kembali,
pada 167 km dari sini.
teruntuk gerimis yang setia menemani kala pergantian senja hari,
menanti kereta ekonomi yang akan membawaku kembali,
pada 167 km dari sini.