Semesta bekerja.
Ia tarik perhatian,
dengan langitnya ia ingin gadis itu menengok ke atas, seperti pagi-pagi sebelumnya,
dengan udaranya ia ingin gadis itu hirup dalam-dalam, seperti pagi-pagi sebelumnya,
dengan sinar mentarinya yang menerobos masuk melalui tirai, yang sengaja gadis itu biarkan terbuka tak lebar, seperti pagi-pagi sebelumnya.
Semesta tau,
telah ada kejadian sebelum ini,
yang lebih dari sekedar kuat untuk melatar belakangi.
Semesta tau,
setelahnya, gadis itu akan selalu baik-baik saja atas yang ia bangun selama ini.
Dan semesta tau,
meski gadis itu melempar tawa dan melukis senyum,
sendunya masih tertinggal di ujung mata, dengan jelas.
Tapi semesta terus bekerja sama,
meski ia tau,
konspirasi akan segala keindahan yang ia hadirkan kepada gadis itu,
hanya belaka.
Gadis itu bukan tertarik,
meski pada akhirnya ujung matanya mencuri pandang akan mega yang megah,
lalu menghirup udara dalam-dalam,
menghela napas.
Dalam harapnya,
atas apa yang telah semesta berikan akan membuatnya lebih bahagia dari yang lalu,
akan membuat senyum yang terlukis dalam rautnya mengeja dari yang lalu.
Tapi pada nyatanya,
yang indah ini lebih dari sekedar kepalsuan,
yang gadis itu bangun sendirian.
Dan gadis itu bercakap pada semesta,
olehnya ia akan berbahagia selalu.